Selasa, 17 Oktober 2017

Ahlam Mustaghanami, di antara Cinta dan Revolusi


Nama Ahlam Mustaghanami demikian cemerlang di kaki langit kesusastraan Arab kontemporer. Nizar Qabbani, maestro penyair Arab asal Suriah memberikan pujian selangit untuknya:
”Ahlam Mustaghanami, matahari dari Aljazair yang menerangi cakrawala susastra Arab. Mustaghanami datang dengan cahaya baru, cahaya yang menjadikan masa depan dunia kesusastraan Arab, utamanya di negerinya, Aljazair, menjadi lebih benderang.”
Sementara itu, dewan Naguib Mahfouz Medal menjuluki Mustaghanami sebagai ”a light that shines bright in this dense darkness. She was able to break out of the linguistic exile that French colonialism banished Algerian intellectuals to.”
Pujian sang maestro Qabbani dan dewan Naguib Mahfouz Medal tentu saja tidak berlebihan. Mustaghanami adalah perempuan novelis Arab terkemuka. Di beberapa negara Arab, semisal Suriah, Jordan, Lebanon, Mesir, Uni Emirat Arab, dan tentu saja negeri asalnya, Aljazair, novel-novel Mustaghanami tercatat sebagai novel paling kontroversial.

Anak Seorang Martir Revolusi

Mustaghanami lahir di Tunisia pada 13 April 1953 dari keluarga asal Constantine, Aljazair. Ayahnya, Muhammad al-Syarif, adalah salah seorang aktivis revolusi Aljazair 1954. Al-Syarif dikenal vokal menentang keberadaan koloni Prancis di negerinya. Pada 1945, besama kawan-kawannya, al-Syarif melakukan demonstrasi besar-besaran yang melibatkan puluhan ribu warga Aljazair.
Akibat demonstrasi tersebut, al-Syarif dipenjara dan diasingkan ke Tunisia. Di tanah pengasingan sang ayah itulah Mustaghanami dilahirkan.
Selama berada di pengasingan, al-Syarif mengajar filsafat dan sastra Prancis di beberapa sekolah dan universitas Tunisia. Peran penting sang ayah banyak membentuk karakter Mustaghanami di kemudian hari. Setahun selepas masa kemerdekaan (1962), al-Syarif kembali ke Aljazair atas panggilan presiden revolusi Aljazair, Ahmad Ben Bellah yang juga kawan karibnya, dan dipercaya untuk menjadi penasihat kebudayaan lembaga kepresidenan, sekaligus menjadi penasihat Persatuan Buruh dan Petani Aljazair.
Tahun 1967 menjadi tahun berkabung bagi Mustaghanami. Di tahun tersebut, pemerintahan revolusi Aljazair dikudeta. Presiden Ben Bellah dibunuh. Ayah Mustaghanami jatuh sakit dan meninggal dunia. Prancis, sang koloni, berdiri di balik kudeta tersebut, dan kembali menguasai Aljazair lewat boneka pemerintahannya.
Pada masa-masa inilah karakter sekaligus karir kepenulisan sastra Mustaghanami mulai terbentuk. Tulisan-tulisannya, terutama artikel sastra dan puisi, mulai banyak dipublikasikan dan disiarkan. Ia sendiri menjadi penyiar di salah satu stasiun radio di Aljazair untuk program siaran puisi dan sastra.
’Ala Marfa’ al-Ayyam (On the Haven of Days) adalah kumpulan puisi pertama Mustaghanami yang terbit pada 1971. Di tahun yang sama, Mustaghanami juga lulus dari fakultas Sastra Universitas Algiers, lalu melanjutkan program Ph.D-nya di Universitas Sorbonne, Paris, dan selesai pada 1985, dengan disertasi bertajuk Algérie: Femmes et Écritures (Aljazâir: al-Mar’ah wa al-Kitâbah).
Disertasi tersebut kemudian dipublikasikasikan sebagai buku di almamaternya. Selama di Prancis, Mustaghanami aktif sebagai redaktur di jurnal sastra dan kebudayaan Arab al-Hiwar yang terbit di Paris, juga jurnal al-Tadhamun yang terbit di London.
Debut penulisan novel Mustaghanami dimulai pada 1993, ketika ia menulis Dzakirah al-Jasad (The Body’s Memory), yang disusul oleh Fawdha al-Hawwas (Chaos of the Senses, 1998) dan ’Abir al-Sarir (Passing by a Bed, 2003). Novel yang ditulis oleh Mustaghanami memang tak terhitung banyak, baru sekitar tiga buah saja. Namun, justru ketiga novel Mustaghanami banyak mengundang perhatian para pengkaji dan kritikus sastra, baik di Arab maupun Barat.
Pada 1996, Dzakirah al-Jasad meraih penghargaan Nour Award dan dinobatkan sebagai novel terbaik dalam bahasa Arab yang ditulis oleh perempuan. Dua tahun berikutnya (1998), Dzakirah al-Jasad juga memenangkan Naguib Mahfouz Medal, sebuah penghargaan sastra Arab bergengsi untuk kategori fiksi.
Di tahun 2001, Mustaghanami mendapatkan penghargaan Malik Haddad Medal untuk novel yang sama.
Ketiga novel Mustaghanami menembus angka penjualan yang menakjubkan, yaitu terjual dalam ratusan ribu eksemplar dan dicetak ulang belasan, bahkan puluhan kali. Ia pun dinobatkan sebagai perempuan novelis yang karya-karyanya terjual paling laris. Novel Dzakirah al-Jasad, misalnya, pada 2005 mengalami cetakan untuk kali ke-21, dengan angka penjualan lebih dari 140.000 eksemplar.

Novel dari Negeri Terbelah

Novel-novel Mustaghanami lebih banyak menggambarkan kegelisahan negeri asalnya. Betapapun Aljazair adalah negeri yang terbelah. Selepas masa kemerdekaan di tahun 1962, Aljazair mengalami semacam kegamangan identitas. Di satu sisi, Aljazair adalah negara Arab Afrika Utara yang mendapatkan kemerdekaannya dari Prancis—setelah dijajah sejak 1803, tetapi di sisi yang lain, tradisi dan budaya Prancis justru tak enyah dan semakin mengakar urat saja.
Aljazair perlahan-lahan mengkhianati dirinya sendiri dengan meninggalkan tradisi dan ”identitasnya” sebagai negara Arab, dan lebih memilih untuk meniru tradisi dan identitas penjajah Prancis. Arab seakan dipandang sebagai keterbelakangan, sementara Prancis dipandang sebagai kemodernan dan masa depan yang menjanjikan.
Inilah sejatinya titik nadir kegamangan Aljazair; ketika kebencian dan ketergantungan, bahkan pemujaan kepada penjajahnya bertaut menajdi satu. Ada sesuatu yang seakan menjadi kebenaran: sejarah Aljazair modern harus dibangun di atas jejak kolonialisme Prancis, yang justru telah membantai puluhan ribu rakyat Aljzair.
Dalam hal ini, membaca novel-novel Mustaghanami akan mengingatkan kita pada sosok Orhan Pamuk, novelis Turki peraih nobel sastra 2006. Dalam karya-karyanya, Pamuk menggambarkan negerinya yang tengah mengalami kegamangan identitas; sebagai bagian Barat-Eropa di satu sisi, dan sebagai bagian Timur-Islam di sisi yang lain. Tentu saja, antara Barat-Eropa dan Timur-Islam merupakan dua entitas tradisi, identitas, dan peradaban yang silih berbeda—sekalipun tak mesti berseberangan.
Kegamangan identitas Aljazair dapat dilihat dari fenomena keseharian yang sederhana dan kasat mata. Betapapun di Aljazair, bahasa Prancis lebih dominan dan ”bergengsi” dari bahasa Arab. Sangat mengherankan memang, ketika sesama warga Arab di Aljazair—utamanya yang tinggal di kota-kota besar, lebih terbiasa berbicara menggunakan bahasa Prancis daripada bahasa Arab. Warga Aljazair pun seolah memiliki identitas ganda, yakni, secara tradisi dan identitas mereka adalah Arab, tetapi budaya dan bahasa mereka adalah Prancis.
Sindrom budaya dan bahasa Prancis demikian kuat dan bahkan dominan, menggerus budaya dan bahasa Arab. Fenomenafrancophone, atau ”Prancisasi” budaya dan bahasa ini demikian mendemam, sehingga menjadikan budaya dan bahasa Arab terpuruk dalam kubangan keterasingan. Sayangnya, keterasingan bahasa ini juga merambah dunia susastra Aljazair. Kebanyakan sastrawan Aljazair, semisal Hamid Grine, Anwar Benmalek, Yasmina Khoudra, Mirna Shaab, dan Ghazai Proue, lebih banyak yang menulis karya-karya mereka dengan bahasa Prancis.
Di tengah keterasingan bahasa Arab akibat merebaknya sindrom Fenomenafrancophone di negerinya, Mustaghanami justru berusaha untuk melawan semua keterasingan itu, yaitu dengan menulis novel-novelnya dalam bahasa Arab. Jerih usaha Mustaghanami ini lantas menobatkan dirinya sebagai perempuan novelis Aljazair pertama yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Arab. Dewan juri dari Naguib Mahfouz Medal memuji usaha Mustaghanami tersebut. Ia didaku sebagai sosok sastrawan Aljazair yang dengan gigih berjuang melestarikan bahasa Arab di tengah pelapukan, keterasingan, dan kepunahannya akibat sindrom Prancis yang merebak di negeri itu.

Dzakirah al-Jasad; Cinta, Revolusi, dan Potret Getir Aljazair

Di antara ketiga novel Mustaghanami, Dzakirah al-Jasad adalah yang paling banyak menuai perhatian jagat susastra Arab. Novel tersebut menyabet tiga penghargaan sastra bergengsi di Arab, yaitu Nour AwardNaguib Mahfouz Medal, dan Malik Haddad Medal. Pada 2005, Dzâkirah al-Jasad mengalami cetakan untuk ke-21 kalinya, dengan angka penjualan yang lebih dari 140.000 eksemplar.
Dzakirah al-Jasad dihadiahkan untuk mendiang ayahnya, Muhammad al-Syarif, juga untuk bapak sastrawan Aljazair Malik Haddad—yang dijulukinya sebagai Martir Bahasa Arab (Syahid al-Lughah al-‘Arabiyyah). Lewat Dzakirah al-Jasad, Mustaghanami hendak mengetengahkan potret masyarakat Aljazair pasca kolonial.
Novel tersebut tidak sekadar memberikan fakta mengenai kerusakan negara dan karakter masyarakat Aljazair akibat penjajahan Prancis, tetapi juga masalah Aljazair yang sebenarnya; semacam gejala kegamangan dalam segala lini kehidupan; aspek sosial, budaya, tradisi, bahasa; semua hal yang menyangkut identitas.
Kesemua cerita tersebut dinarasikan melalui tokoh bernama Khaled, lelaki muda yang berasal dari kota pesisir Constantine dan terlibat peristiwa revolusi Aljazair. Khaled bergabung bersama kelompok gerakan kemerdekaan pimpinan Si Thahir. Dengan sangat dramatis, Mustaghanami mendedahkan intrik dan pernik revolusi Aljazair, sehingga getar revolusi yang terjadi lima puluh tahun silam seakan terasa demikian kuat dalam Dzakirah al-Jasad.
Mustaghanami membalut semua cerita di atas dengan romantika cinta yang berliku-liku. Khaled mempunyai kekasih bernama Hayat. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan Aljazair yang memegang teguh identitasnya sebagai seorang Arab, tanpa harus gagap oleh arus kemodernan Perancis yang datang ke negerinya dengan sangat deras. Kisah cinta Khaled dan Hayat dipaparkan oleh Mustaghanami dengan melankolis, dan diungkapkan dengan teramat puitis.
Maka Dzakirah al-Jasad adalah rangkaian cerita cinta yang dramatis, kisah revolusi yang menggetarkan, dengan latar kota pesisir Constantine yang eksotik, juga potret negeri Aljazair yang terbelah getir.
Comments
0 Comments

Posting Komentar

Start typing and press Enter to search