Rabu, 07 Februari 2018

Mau Dibawa ke Mana Islam di Grup WA?

Foto: Rachman Haryanto | Detik.com

Beberapa waktu yang lalu saya membaca posting-an salah satu orang yang saya ikuti di Facebook. Tapi maaf saya tidak mencantumkan nama. Setahu saya orang tersebut cerdas dan berwawasan luas di bidang keagamaan. Ini terbukti dengan status-status buah pikirannya yang berbobot dan sarat nilai keagamaan, bukan status yang ecek-ecek bak remahan rengginang yang cuma bikin spam seperti status saya misalnya hehe.

Singkatnya ia menceritakan ada salah seorang temannya yang sering sekali chat mengirimkan artikel atau tulisan orang lain tentang dakwah-dakwah keagamaan. Ini tidak terjadi sekali atau dua kali saja, tetapi hampir setiap hari. Pada suatu ketika dia menyatakan keberatan atas kebiasaan temannya tersebut, dan meminta agar menghentikannya. Pertama karena mengganggu, kedua karena tulisan yang ia share itu bukan tulisannya melainkan tulisan orang lain yang terkadang tidak jelas pula sumbernya. Dan, ketiga terkadang isinya cenderung provokatif, sarat kebencian padahal katanya dakwah.

Seperti kebanyakan orang, temannya itu sedikit tersinggung dan menyampaikan dalil-dalil, intinya tentang kewajiban menyampaikan ayat dan bla bla bla lainnya. Maka dia melakukan strategi yang menurut saya sederhana namun tak terduga. Ia mengirimkan artikel-artikel tentang resep makanan dan tulisan-tulisan absurd setiap hari sehingga akhirnya temannya tidak terima dan protes.

Penjelasan darinya simpel, bahwa hal itu pulalah yang dirasakan saat temannya mengirimkan artikel-artikel tentang dakwah keagamaan. Iya, itu tentang keagamaan tapi bukan berarti harus dipaksakan. Katanya Islam itu rahmatan lil 'alamin, membawa kedamaian. Tapi, kalau disampaikan dengan cara-cara berlebihan dan cenderung membuat hati jengkel, bukankah justru hasilnya akan sebaliknya? Itu penjelasan dia lho, bukan saya.

So, intinya saya sependapat dengan orang yang saya ikuti tadi. Bahwa segala hal yang menyangkut tentang keagamaan harus disampaikan dengan cara yang baik pula.

Jadi ingat dakwahnya Habib Jindan --serius itu habib ganteng dan menyejukkan banget sih, eh. Bahwa dalam peperangan Rasulullah SAW selalu menyampaikan kepada sahabatnya untuk menawarkan Islam kepada lawan mereka dengan cara yang baik.

Pada suatu waktu, ada sahabat yang mungkin kesal karena perang yang terjadi berlarut-larut dan menyampaikan sesuatu kepada Nabi SAW. Ia ingin agar Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya mengutuk dan mencaci maki musuh mereka.

Apa yang disampaikan Nabi SAW terhadap sahabatnya tadi sungguh di luar dugaan. Beliau menentang keras untuk mencaci dan mengutuk lawannya tadi, meski saat itu mereka masih berada di medan perang. Beliau menyampaikan, bahwa Allah mengutus dirinya bukan sebagai tukang laknat, atau tukang caci maki. Tapi, Allah mengutusnya sebagai rahmatan lil 'alamin, membawa rahmat bagi alam semesta meski dalam peperangan sekalipun. So, clear kan?

Fix! Maka Islam juga adalah agama yang membawa konsep saling menghargai antarsesama. Bukan hanya kepada umat muslim saja, namun untuk alam semesta. Jadi, ketika seseorang dipaksakan dengan pemahaman tentang salah satu pendapat ulama yang mungkin sedikit berseberangan dengan ulama lain, benarkah kita sebagai umat harus saling adu argumen dan menyalahkan? Ah, siapalah kita yang hanya remukan gorengan di antara lezatnya mendoan dan tahu isi yang menggiurkan itu! Tidak mungkin juga Imam Syafi'i dan Imam Hanafi gontok-gontokan lewat WhatsApp (WA) di grup, dan mengklaim salah satu dari mereka adalah paling benar.

Terakhir, masih juga dengan konsep saling menghargai yang dibawa oleh agama yang sempurna ini. Jadi memang saya pernah left di salah satu grup. Sebenarnya saya bisa saja mengemukakan alasan kenapa saya left, misalnya kepencet anak saya atau ganti hape, tapi tidak. Katanya, sampaikanlah kejujuran meskipun itu pahit. Saya bilang bahwa saya tidak sreg karena satu dan lain sebab. Dan, tentu saja disertai permintaan maaf. Kasar? Saya rasa tidak, hal ini saya pikirkan baik-baik sebelumnya, tidak karena emosi sesaat.

Benarkah saya tidak menghargai grup itu? Oh, mari kita tarik dulu hal ini ke masa lampau --wuih, kesannya kayak jauh banget ya. Maksud saya ke awal terbentuknya grup. Sudahkah Anda menanyakan kesediaan saya untuk masuk dalam grup tersebut?

Okelah, misal pun itu grup keluarga, teman sekelas, reuni, karang taruna atau apapunlah. Yang notabene, ya kita anggota di dalam komunitas itu. Tapi, mari kita pisahkan definisi antara anggota komunitas dan anggota grup WA. Menjadi anggota sebuah komunitas, tidak serta merta akan timbul kewajiban bergabung dalam grup WA kecuali mungkin ada kesepakatan atau pembicaraan sebelumnya. Nabi SAW saja tidak pernah memaksakan orang kafir memeluk agama ini, apalagi memaksakan seseorang untuk masuk di grup WA.

Jadi, mari kita coba sedikit berpikir tentang konsep penghargaan dan khusnuzon. Ketika seseorang memutuskan untuk left grup, atau tidak bersedia sekalipun bukan berarti dia antipati, benci, atau semacamnya. Bisa saja mungkin hapenya tergolong langka dan mau punah karena memorinya cuma 1 Gb, atau 512 Mb --masih ada nggak sih hape memori segitu? Wajarlah kalau mulai hang, kebanyakan grup. Apapun alasannya, menurut saya patut dihargai.

Begitulah Islam, harusnya membawa rahmat, manfaat, dan kedamaian meski pada masalah perhapean sekalipun. Toh kalau memang seseorang merasa membutuhkan informasi atau manfaat di grup tersebut, pasti dia akan berusaha untuk terlibat.

Masak iya, cuman gara-gara grup WA, kita mau menambah golongan yang sudah terpecah menjadi 73 ini.

Dinna Leili seseorang yang ingin belajar

Sumber: Detik.Com
Comments
0 Comments

Posting Komentar

Start typing and press Enter to search