Kamis, 15 Maret 2018

Sebagai Perempuan Indonesia, Kita Perlu Tempat Strategis

Oleh: Khusnul Ma'arif

Ternyata tidak sedikit dari perempuan milenial yang terlanjur memangkas mimpi-mimpinya yang menjulang. Tak habis fikir jika jiwa-jiwa muda harus merenggang impiannya di pelataran  era kompetisi. Membunuh bibit-bibit unggul dengan dikotomi budaya.

Mungkin ini yang difikirkan oleh para perempuan di abad 19. Pada dasarnya, mereka tak sekedar memikirkan kepentingan golongan untuk membawa marwah perempuan sejajar dengan laki-laki. Dalam konteks ini, mereka telah menerawang jauh bahwa akan banyak masalah yang akan terjadi  terkait ketimpangan sosial di bangsa ini jika feminisme tidak digalakkan.

Seperti yang kita lihat hari ini, masih saja banyak isu yang menomorduakan perempuan. Ironi, budaya patriarki telah menjajah mental perempuan Indonesia, terlebih merenggut keberanian mereka untuk menjajaki dunia pendidikan dan politik lebih dalam.

Padahal, fakta di lapangan menunjukkan seharusnya kaum perempuan membutuhkan tingkat pendidikan lebih tinggi daripada laki-laki. Malang-mujur perjuangan feminisme telah menyita waktu yang panjang dalam catatan sejarah. Walhasil, hari ini sudahkan benar-benar kita (perempuan) diwarisi apa yang kita tuntut ratusan tahun silam? Atau perempuan di hari ini telah lupa dengan esensi feminisme sendiri? Apa sebenarnya yang kita inginkan dalam wajah baru feminisme di Indonesia?

Feminisme adalah suara yang tidak baru lagi, gaungan suara perempuan dari jendela yang berbeda-beda membawa misi kebebasan. Terkekang oleh kuatnya budaya patriarki dan para partisipannya. Mari kita jabarkan apa itu feminisme yang diinginkan kaum perempuan di hari ini.

Pada dasarnya gerakan ini menggebu-gebu menyuarakan kesetaraan gender dan menghapuskan dikotomi male and famaleKampanye HeforShe yang dilakukan oleh para perempuan Indonesia pada 03 Maret lalu dalam rangka memperingati ‘Women’s Day’ adalah suara perempuan hari ini, diaktualisasikan dengan kegiatan lari bersama. Kegiatan ini sengaja dipoles dalam kegiatan lari, artinya perempuan Indonesia harus terus bergerak mengejar kebebasan diri mereka. Juga sebagai eksistensi perempuan Indonesia yang terus sportif dan kompetitif. Mereka ingin menunjukkan bahwa sudah saatnya Indonesia membukakan ruang untuk matriarkat Indonesia. Mulai berangkat dari ruang domestik dan akhirnya menajajaki sektor pendidikan, ekonomi, juga politik.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada tahun 2017 jumlah pengangguran di Indonesia mengalami peningkatan sekitar 10.000 orang yang mendominasi kaum perempuan. 

Berangkat dari tokoh pejuang feminis Arab, Riffat Hasan menyuarakan tentang kebebasan bagi laki-laki dan perempuan. Menurutnya, feminisme yang selama diharapkan orang umat manusia adalah pengakuan. Maksudnya adalah realisasi parsial dari pihak patriarki sendiri untuk merubah konsep yang tertanam di semua seluk budaya bahkan struktural primordial di tingkat rumah tangga. Tak ada yang mendikotomi hak dan kebebasan manusia untuk mengatur hidupnya dan menjiwai anugrah yang dititiskan Tuhan untuk dirinya. Berkaca pada Singapura, jika diberi kesempatan perempuan akan membuktikan.

Agama telah menempatkan perempuan pada tingkat yang istimewa. Feminisme butuh diberi ruang dan diperjungkan sebagai salah satu kebanggan yang mempunyai pengaruh terhadap nilai kemanusiaan.

Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa perempuan adalah mitra dari laki-laki. Akhirnya, saat mereka saling melengkapi dan menghargai hak-haknya dan menempati posisi yang strategis menurut apa yang dianjurkan oleh agama, maka gerakan feminisme ini harusnya bukan lagi diperjuangkan oleh para perempuan saja.

Di pihak lain, dukungan dan pengakuan dari gender laki-laki adalah potensi besar penempatan yang trategis bagi para perempuan Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu kita dibuat heboh dengan pelantikan presiden perempuan terpilih di Singapura. Halimah Jacob tokoh perempuan yang melesat dari segenap lilitan deskriminasi. Halimah adalah representasi dari golongan minoritas di Singapura. Selain seorang perempuan, Halimah juga berangkat dari etnis Melayu yang tergolong minoritas di Singapura.

Ini merupakan tamparan bagi kita semua. Setelah Singapura memberi kesempatan pada perempuannya, mengapa tidak untuk Indonesia? Tak kalah hebatnya dengan Menteri perempuan Sri Mulyani yang menerobos panggung internasional meraih penghargaan Menteri Ekonomi terbaik dunia. Mencengangkan, putri bangsa yang berkiprah di dunia ekonomi ini juga membuktikan perempuan perlu ruang untuk berkiprah untuk bangsa. Bayangkan saja jika Sri Mulyani next generation didukung dan diberi ruang berkiprah untuk Indonesia, bukan hal yang mustahil jika Indonesia ke depannya mampu berkompetisi secara masif di berbagai bidang lintas ekonomi.

Pada akhirnya feminisme bukanlah sekedar pergerakan kaum perempuan semata yang menyuarakan hak-haknya di depan dikotomi budaya selama ini. Pada hakikatnya, feminisme adalah perempuan dan laki-laki di negeri ini yang menyadari dan menginginkan nilai kemanusiaan itu masih disuarakan dan diperjuangkan. Karena perempuan di hari ini mampu membuktikan bahwa mereka adalah mitra dari laki-laki sendiri yang perlu diberi ruang berkiprah.

Kutipan lirik lagu Melly Goeslow berikut mewakili perjuangan feminisme di seluruh dunia:
Semua berawal dari mimpi
Hanya kita yang bisa mewujudkan
Sampai di mana batas pengorbanan
Sedang pengabdian tak pernah terhenti
Hadir tanpa diundang dan dipaksakan
Memang kenapa kalau aku perempuan
Aku tak mau jadi budak kebodohan
Wahai perempuan Indonesia, tetaplah eksis dengan cantikmu, berjuang dengan ketulusanmu. Untuk perempuan Indonesia di hari ini, selamat berkiprah untuk negeri.
Penulis adalah Anggota Senat Mahasiswa UIN Jakarta 2018

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Start typing and press Enter to search