Senin, 14 Mei 2018

JIKA RASULULLAH BERADA DI SAMPINGMU DAN MENDENGAR TEROR BOM

Oleh: Kartini F. Astuti

Mampukah kau membayangkan bagaimana jerih payah perjuangan Rasulullah menjelang Ramadhan? Mampukah kau membayangkan bagaimana wajahnya saat ada yang memberitakan tiga gereja diledakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikutnya? Mampukah kau membayangkan kalimat apa yang keluar dari mulutnya pertama kali dan apa yang dia perbuat setelah itu? Mampukah kau mendengar seberapa bergetar hatinya? Mampukah kau?

Bayangkan saja.. jika Rasulullah berada di antara dua ratus lima puluh juta penduduk Indonesia dan kebetulan lahir di Jawa, langkah mana yang akan dia tempuh di saat itu?

Andaikata bom diledakkan di pagi hari, Rasulullah mungkin baru benar-benar menerima kabar itu di sore atau malam hari karena dia sibuk berdakwah, berniaga, dan bermunajat pada Tuhannya. Atau kalau ia memiliki smartphone selebar enam inci, kemungkinan ia menerima notification di pukul sembilan empat puluh lalu diam-diam membacanya dengan wajah tegang.

Jelas, Rasulullah ingin mengutuk aksi biadab itu dengan berkomentar macam-macam. Tapi amarah itu dia redam sesaat. Pikirannya berkecamuk. Tangannya terkepal kuat-kuat. Bagi Rasulullah, smartphone seumpama pedang. Alat berperang. Dan media sosial adalah medannya. Banyak sekali mention yang tertuju pada namanya. Banyak netizen yang menyebut-nyebut ajarannya.

Ketika ada yang bertanya ada apa, Rasulullah dengan wajah merah padam menyimpan smartphone-nya lagi dan menunggu beberapa sahabat yang bekerja sebagai polisi tiba dari lokasi kejadian untuk memastikan kabar duka itu. Kadang-kadang berita online semakin lama semakin simpang siur dan ditunggangi banyak sekali kepentingan. Dia lantas berharap wahyu kepada Allah dan memohon perlindungan.

Melalui telepon, para sahabat yang berpangkat jenderal menawarkan diri untuk menjaga Rasulullah dari kemungkinan serangan balik, dari kemungkinan hujatan atau tindakan bodoh para pembenci. Rasulullah menolaknya dengan berbisik, “Allah yang akan menjagaku.”

Detik itu sudah siaga satu. Rasulullah masih di lingkungan sekitar rumahnya, tidak mau ribut-ribut di hadapan mereka yang memburu ilmu untuk mengejar ridha Allah. Setidaknya sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing dengan aman, sebelum para polisi menertibkan keadaan.
"Ya Rasul," katamu, "Aku ingin memenggal kepala para pemimpin yang lalim!""Tidak," Rasulullah menjawab tegas, "Sebaik-baiknya pedang adalah lidah dengan perkataan yang baik."
Rasulullah bertanya-tanya, apakah sebagian pengikutnya tidak tahu bahwa menyakiti manusia dengan cara apa pun sama saja dengan menyakiti dirinya. Apakah mereka belum paham bahwa membunuh satu jiwa sama saja dengan membunuh seluruh jiwa di muka bumi?

Rasulullah berpikir, apakah ia belum memberitahu mereka? Apakah ajarannya belum sampai? Ayat mana yang mereka pegang? Apakah mereka tidak tahu bahwa umat lain juga adalah warganya? Apakah mereka mengira bahwa perang adalah menyerang? Kapan ia mengajarkan soal itu?

Sungguh. Rasulullah merasa ikut terbunuh! Rasulullah dikepung oleh rasa bersalah, oleh dosa, karena belum bisa jadi uswah yang baik. Tega sekali yang membuat Rasulullah begitu berguncang hebat hari ini. Lidahnya sedikit lebih kelu. Bibirnya kering dan tidak sempat untuk minum. Rasulullah jadi amat sangat hati-hati dalam menjaga lisannya. Dia menjabarkan petuah-petuah dengan tenang dan penuh perasaan padahal dadanya bergemuruh dan air matanya hampir menetes. Dan Rasulullah melakukan semua itu seolah belum mendengar apa-apa. Orang-orang di sampingnya, termasuk juga kamu yang baru mempelajari Islam kemarin sore, sibuk mentaati tugas-tugas yang ia perintahkan. Sami’na wa atha’na.

Seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah datang dari luar kota dengan kantung mata yang berat, memeluknya dan mencengkeram erat bajunya. Dia adalah sahabat paling tangguh tapi jadi paling rapuh hari ini. Rasulullah menutup mulutnya dengan tangan sewaktu sahabatnya itu memperlihatkan foto-foto di tempat kejadian. Kamera digital jadi saksi bisu. Rasulullah ingin menemui satu persatu keluarga korban dan menyampaikan duka sedalam-dalamnya. Tapi Rasulullah kemudian kembali bergeming. Itu tidak akan mengubah keadaan, malah nanti ia akan terjebak karena membuat publik menyangka bahwa teroris itu benar pengikutnya. Rasulullah lalu meminta para sahabatnya untuk mengusut tuntas kasus itu. Secepat-cepatnya.

Alangkah terkejutnya Rasulullah mengetahui bahwa yang ditetapkan sebagai tersangka adalah keluarga, juga seorang remaja kelahiran 2000. Alangkah kagetnya Rasulullah bahwa yang ditetapkan sebagai barang bukti satu-satunya adalah Alquran. Ini penghinaan. Dia hampir saja menegur sang pengusut. Tapi, tunggu dulu. Rasulullah memandang wajah anak-anak muda yang sedang mendapat pembekalan dari para sahabat dan tabi'in. Semuda itukah? Rasulullah mencermati setiap anggota keluarganya, juga anak-anaknya yang masih kecil. Ia geleng-geleng kepala. Tak habis pikir. Benar-benar tak habis pikir.

Sekarang, bayangkan andaikata, anaknya kuliah di jurusan Kimia di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Rasulullah bertanya apakah anaknya itu bersedia menyirami wajah Rasulullah dengan asam klorida. “Ayah, kau bercanda,” ejek anaknya. “Kulitmu akan melepuh!”

Rasulullah bertanya lagi apakah anaknya tahu unsur-unsur pembuat bom. Anak itu mengatakan iya. Rasulullah melanjutkan apakah ia mampu merakit bom. “Membuat bom itu mahal, rumit pengerjaannya, dan susah perizinannya, Ayah. Mana bisa?”

Demikianlah. Rasulullah memperlihatkan pada para sahabat yang datang ke masjid bahwa kasus ini tidak mungkin dilakukan sendirian, pasti berjamaah dan harus dilawan dengan jamaah. Rasulullah juga menegaskan bahwa alat apa pun tergantung siapa yang memegangnya, apakah ia mengerti fungsinya atau tidak.

Alquran juga adalah alat, alat yang turun dari Allah langsung. Alquran akan jadi kompas bagi mereka yang belajar sampai akhir hayat. Bagi mereka yang mau mencari dan memahami maksud perkataan Allah. Bagi mereka yang ingin tahu kemana hidup harus dituju. Bagi mereka yang tidak saja menuju surga, tapi menciptakan surga di dunia, dengan membuatnya aman sentosa bagi siapa saja.

Jelaslah bahwa para pemuda sedang dibunuh rasa ingin tahunya pada ajaran Allah dan para keluarga sedang dihantui. Mereka ketakutan dengan anggapan orang tentang teroris jika saja masih datang menemui Rasulullah. Inilah yang sedang Rasulullah khawatirkan.

Rasulullah meminta sahabatnya lagi untuk mengusut dalang di balik semua itu. Tapi berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun tidak juga ketemu. Itu kasus yang tidak pernah selesai. Rasulullah pusing memikirkannya. Ia kini mengerti. Allah sedang mengujinya untuk percaya. Bahwa hanya Allah yang tahu duri di balik hati. Hanya Allah yang jadi Hakim Agung di persidangan kelak di hari akhir. Dan hanya anggapan Allah-lah yang berhak ditakuti.

Rasulullah berdoa sebelum para pengikutnya yang setia berdoa. Dia sungguh-sungguh berdoa. Menyematkan hashtag #prayforIndonesia pada Allah di sepertiga malam dan menebar cinta keesokan harinya dengan bersedekah.

Bom susulan tidak hanya meledak di sudut kota, tapi juga di hati Rasulullah yang kemudian sesak dan nyeri. Satu-satunya pembelaan terhadap ajaran Allah baginya adalah terus berdakwah dan tak henti berjuang, membela setiap nyawa manusia yang tak berdaya atas ketidakadilan.

Setelah ini, dia harus dengan payah mengakrabkan umatnya untuk kembali pada Alquran. Semoga saja dengan begitu, lebih banyak orang yang tidak gampang terpapar oleh pemahaman yang salah, lebih tahu kandungan Alquran daripada asam klorida.

Mungkin ini yang akan Allah ridhai: Allah ingin memantaskan Rasulullah menjadi penghuni surga dengan menghadapi peliknya urusan umat yang dibayang-bayangi ketakutan. Mengatakan tidak takut sesungguhnya hanya penyangkalan atas ketakutan itu sendiri. Mengatakan tidak takut hanya membuat Rasulullah berdiri gagah tapi tidak berbuat apa-apa.

Rasulullah tidak takut pada teroris. Tidak pernah takut. Tapi, dia juga tidak diam. Jika dia pandai menulis, dia akan menyembuhkan teror yang menyebar itu dengan tulisannya. Jika dia pandai berbicara, dia akan menyampaikan risalahnya sejernih-jernihnya sampai teror itu mereda.

Jika dia hanya pandai menjadi hamba, dia akan memulihkan hati setiap orang yang terluka sebagai bentuk persembahannya pada Allah. Bayangkan jika Rasulullah, teladan kebanggaanmu, duduk di sampingmu dan mendengar teror bom hari ini. Bayangkan betapa banyak orang yang akan meminta pertanggungjawaban darinya. Dan jika kau tidak kuasa membayangkan Rasulullah berada di sampingmu hari ini, bayangkan siapa pemimpinmu hari ini. Atau, kalau kau belum juga mampu membayangkan siapa pemimpinmu, bayangkan siapa yang jadi penerus Rasulullah? Nah. Bukankah kau sendiri?

Bayangkan saat Rasulullah mengatakan padamu di embusan nafas terakhirnya, tepat di kupingmu: “Besok, saat aku dipanggil pulang oleh Allah, jangan kotori darah juang para syuhada dengan menyakiti sesama manusia. Juga, jangan biarkan manusia lain mengotori ajaran Allah hanya karena kau lalai dalam menasehatinya.”

Benar. Kau adalah manusia bergelar khalifah fil ardi. Pemimpin di bumi. Maka bayangkan saat kau mendengar teror bom meledakkan jiwa-jiwa saudaramu hingga pecah ukhuwah dan hilang rasa kemanusiaan. Tanyakan pada dirimu: pantaskah kau jadi pemimpin?

Lalu bagaimana kau akan belajar menjadi pemimpin yang baik jika kau tidak mengenal dan mencintai Alquran sebagai warisan Rasulullah?

Bandung, 15 Mei 2018


Inspirational Writer Graphic Designer
Comments
0 Comments

Posting Komentar

Start typing and press Enter to search