Kamis, 14 Juni 2018

Idul Fitri dan Pesan Kemanusiaan

Ilustrasi (GettyImages)
Oleh: Nur Rofiah

Idul Fitri secara literal bermakna kembali berbuka atau tidak berpuasa lagi. Setelah sebulan lamanya berpantang makan, minum, dan hubungan seksual di siang hari, Idul Fitri menjadi awal hari-hari normal kembali dimulai. Jika Ramadhan ibarat Kawah Candradimuka, maka Idul Fitri sejatinya adalah hari pertama dalam 11 bulan untuk praktek pengendalian diri yang ditempa melalui puasa. Kita perlu hati-hati untuk menghayati Idul Fitri sebagai hari kemenangan sebab sejatinya ini adalah hari di mana pergulatan sesungguhnya baru saja dimulai dan merasa menang di hari pertama pertempuran dapat melemahkan semangat juang.

Beberapa bulan terakhir, Indonesia cukup bising dengan dengan ujaran kebencian, informasi-informasi hoaks, perusakan rumah ibadah, persekusi, hingga pengeboman beberapa tempat. Agama turut ditafsirkan sedemikian rupa demi kepentingan politik pragmatis yang mengoyak persaudaraan sebangsa, sesama umat beragama, bahkan sesama Muslim. Korban-korban pengeboman adalah orang-orang yang tidak punya kesalahan langsung dengan pelakunya. Sementara pelakunya adalah satu keluarga, termasuk istri dan anak-anak di bawah umur yang diyakini memiliki motivasi agama yang kuat.


Rangkaian tindakan intoleran ini menyentak kesadaran kita. Jika agama membolehkan tindakan yang membahayakan kemanusiaan, bukankah bangsa Indonesia yang setiap orangnya beragama bisa saling berbalas melakukan tindakan berbahaya atas nama agama? Bagaimanakah agama-agama dapat mengembalikan sisi manusiawi penganutnya? Pertanyaan-pertanyaan ini layak diajukan karena setiap agama menjanjikan kebajikan pada manusia.


Ramadhan dan Jati Diri Manusia
Setiap ibadah dalam Islam memiliki dimensi fisik dan spiritual sebagaimana kedirian manusia. Demikian halnya dengan puasa. Secara fisik, puasa menggembleng agar tubuh terlatih menahan lapar, haus, dan dorongan libido. Secara spiritual, puasa melatih kemampuan untuk mengontrol diri dari aneka kenikmatan duniawi yang halal, baik, dan telah menjadi hak. Lebih-lebih pada kenikmatan duniawi yang terlarang. Mental ini penting agar manusia mampu bertindak sesuai dengan jati dirinya sebagai hamba Allah (Abdullah) yang mengemban amanah sebagai mandataris di muka bumi (Khalifah fil Ardl) untuk mewujudkan kemaslahatan.

Mengasah iman yang mendorong kemaslahatan memiliki tantangan serius karena keimanan semacam ini tidak cukup berkutat di ruang-ruang ibadah yang eksklusif, sebaliknya mesti bergulat langsung di kancah kehidupan riil tempat di mana gesekan beragam kepentingan terjadi. Iman yang menggerakan peradaban meniscayakan nalar kritis, baik dalam memahami ajaran agama maupun realitas sosial yang menjadi arena perwujudan kemaslahatan. Tanpa nalar kritis dan pengetahuan atas problem kemanusiaan kongrit, iman dapat disalahgunakan pihak lain untuk memukul lawan, dan membungkam pihak lemah dalam sebuah relasi, bahkan mengancam nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi misi utama agama sendiri.


Keinginan berkumpul kembali dengan keluarga di surga adalah cita-cita keimanan yang sangat mulia. Namun penting dipikirkan secara kritis, dapatkah surga Tuhan ditempuh dengan cara melukai dan membahayakan masyarakat luas. Demikian pula, dapatkah seorang suami menjalankan mandat sebagai penanggungjawab keluarga dengan cara mengajak isteri dan anak-anak melakukan tindakan yang membahayakan mereka sendiri dan masyarakat luas. 


Penghambaan pada selain Allah, mendorong manusia untuk menghalalkan cara-cara terlarang demi tercapainya keinginan. Jika hasrat berkuasa ditempuh dengan penyebaran informasi hoaks, kebencian, persekusi, bahkan pengeboman yang jelas-jelas merusak persaudaraan sesama bangsa Indonesia, sesama umat beragama, bahkan sesama Muslim apalagi jika membahayakan keselamatan masyarakat luas, maka penghambaan pada kekuasaan sesungguhnya telah terjadi. Tidak peduli dibalut dengan ujaran keagamaan setebal apapun.


Problem Kemanusiaan sebagai Titik Temu
Sejak kehadirannya, agama mengajarkan iman yang bergulat langsung dengan problem kemanusiaan. Iman kepada Allah yang diajarkan Rasul Musa bergulat langsung dengan perbudakan manusia akibat penuhanan atas kekuasaan yang dilakukan Fir’aun. Iman yang diajarkan Rasul Luth bergulat langsung dengan kejahatan seksual akibat penuhanan atas libido yang dilakukan oleh kaumnya. Demikian pula iaman yang diajarkan Rasul Muhammad Saw bergulat langsung dengan peperangan dan sistem ekonomi riba akibat penuhanan pada harta benda yang mengakibatkan perbudakan, dan dengan sistem patriarkhi yang menistakan perempuan akibat penuhanan pada laki-laki.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa kualitas iman bukanlah terletak pada sejauhmana umat beragama menyembah Allah sebagai Tuhan karena Allah berkuasa secara mandiri (Qiyamuhu Binafsihi), melainkan sejauhmana mereka mampu mengasah keimanan kepada Allah sehingga mempunyai daya dorong kuat untuk mengatasi problem kemanusiaan. Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah hamba-Nya yang diperlakukan tidak adil, demikian Gus Dur mengingatkan. Pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang justru menistakan kemanusiaan dengan demikian adalah pelecehan terberat atas agama itu sendiri. 


Jika setiap agama hadir untuk kesejahteraan manusia, maka setiap agama mempunyai tanggungjawab sama untuk mengatasi problem kemanusiaan. Problem kemanusiaan menjadi titik temu umat agama yang berbeda-beda. Keimanan pada Tuhan bersifat subyektif dan tidak terukur. Bahkan keimanan umat dari agama yang sama pun hanya Tuhan dan dirinya yang mengetahui secara pasti apakah masih terjaga atau tidak. Namun kemaslahatan manusia yang menjadi buah dari iman sangat terukur sebab kebutuhan untuk diperlakukan secara manusiawi itu ada pada diri setiap manusia.


Kita tidak bisa menyatukan manusia dalam agama yang sama, tetapi kita dapat menyatukan umat beragama apa pun untuk mengatasi problem kemanusiaan yang sama. Umat beragama mesti bahu-membahu mengatasi problem kemanusiaan serius yang dihadapi bangsa ini, seperti perdagangan manusia, narkoba, stunting, kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pengusiran, perusakan lingkungan hidup, perkawinan anak, bahaya radikalisme agama, dan lain sebagainya. 


Ketika umat beragama yang satu terus bermusuhan dengan umat agama yang lain, maka seluruh umat beragama cenderung lupa pada musuh bersama agama, yaitu penistaan atas kemanusiaan. Sahabat Ali bin Abi Thalib dulu pernah mengingatkan bahwa mereka yang bukan saudaramu dalam agama adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Artinya, perbedaan apapun yang dimiliki manusia tidak bisa menjadi alasan untuk menistakan sebab Dengan menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai titik temu komitmen keimanan pada Tuhan, maka kini kita bisa mengatakan bahwa mereka yang menjadi saudaramu dalam kemanusiaan, adalah saudaramu dalam mengemban mandat utama seluruh agama.


Pada akhirnya, puasa Ramadhan sudah semestinya mengasah kemampuan kita untuk menjaga jarak aman dari aneka kenikmatan ragawi dan menajamkan mata batin agar bisa semakin kritis dalam beragama sehingga semakin teguh berpegang pada nilai kemanusiaan yang menjiwainya. Jika ini terjadi, maka Idul Fitri secara substantif bisa dimaknai sebagai momen kembali pada kondisi fitrah manusia, yaitu hanya ingin tunduk pada Tuhan dan berpihak pada kemaslahatan manusia seluas-luasnya. ***

Pamulang, 14 Juni 2018

(Nur Rofiah adalah Dosen Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, dan anggota Jaringan KUPI)

Diambil dari Facebook pribadinya untuk versi Bahasa Inggris telah dimuat di The Jakarta Post ada 13 June 2018: 
http://www.thejakartapost.com/academia/2018/06/13/idul-fitri-and-its-message-of-humanity.html

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Start typing and press Enter to search